Sabtu, 29 Februari 2020

jangan

hei! kau tau apa itu lelah?
sungguh, ini menyakitkan..
jangan didekati,
ini menakutimu nanti.
sungguh......
bisakah kau lihat kesungguhanku ini..
untuk  kali ini saja.
Aku lelah..!!!

Senin, 17 Februari 2020

Kami Lelah

Kami telah berusaha sebaik mungkin dengan kalian, tapi kenapa kalian melakukan kami seperti ini, kalian tau kami adalah kakak kelas kalian kami adalah AVZANETRA kalian sudah kami anggap generasi kami GENCIMA! kalian tau selak-beluk kami, kalian mengerti apa yang kami rasakan selama ini, tapi kenapa kalian melakukan ini pada kami? apa salah kami sama kalian semua? Jawab kami! Kami telah memasuki program NIHAIE yang mana kami sibuk dengan tugas kami semua. Kami berdiri dibelakang kalian dan jika kalian tidak menghargai kami, kami terima dan tidak mempermasalahkan itu semua. Tapi kami sebagai yang tertua melihat sikap dan tindakan kalian yang salah apakah kami tidak boleh untuk turun tangan? Apakah kalian gak terima kami tegur? Apakah kalian merasa bahwa kami menggangu tugas kalian? Jawab Kami GENCIMA! Kami kecewa sangat kecewa dengan apa yang kalian lakukan kepada kami. Ingat baik-baik dan camkan! Kami mengumpulkan kalian karena kami perduli dengan kalian, kami perduli dengan Pesantren, kami perduli dengan santri. Kami negur kalian dengan baik-baik. Perhatikan!
"Kami ingin menanyakan seuatu hal dengan kalian, kenapa kalian tidak konsultasi dengan kami terlebih dahulu, bukannya kami tidak suka kalian konsultasi dengan Ustdzah kemarin, hanya saja kamikan pengurus ISMAM kemarin, mungkin kalian mengira bahwa kami sibuk dengan tugas kami, tapi untuk konsultasi dengan kalian kami akan meluangkan waktu kami untuk itu, tapi apa kalian setelah menjadi pengurus, kalian malah songong dan sombong, seakan-akan kalian bisa menjalankan tugas kalian sendiri tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan kami." Ucap anak DEIZA saat memulai pembicaraan dengan anak GENCIMA
"Kami merasa kalian tidak menghargai kami, dan masalah kebersihan kami tidak pernah mendengar kalian berkeliling ke setiap kamar bahkan teriak-teriak pun jarang, dan masalah baju kita yang mungkin kurang rapi dikamar, kami berharap kalian bisa memakluminya karena kami yang telah disibukan dengan program NIHAIE." Lanjut kami memancing mereka untuk berbicara.
"Maaf ukhti, kami diperintahkan oleh mas Oval untuk tidak banyak bacot yang penting gerak! dan masalah kamar, kami merasa tidak enak dengan kalian yang masih tertidur saat kami ingin melaksanakan piket."
"Dan masalah maling, bukankah saya sudah memberitahukan bagian keamanannya untuk melakukan dengan menanyakan langsung dengan para santri, tanpa harus memanggil orang luar untuk melakukan itu semua, kalian gak berfikir bahwa dia adalah santri Hanafia yang kemungkinan besar akan mencerikan kejelekan Pesnatren kita kepada teman-temannya, dan siapakah nantinya yang akan jelek? Pikirkan baik-baik!" 
"Saya tidak nyangka dengan kalian, pikiran kalian masih bocah tapi kalian tidak konsultasi dengan kami." Serangan pertanyaan dari anak AVZANETRA tiada henti-hentinya kepada mereka.
Perkumpulan itu berlangsung dengan cukup lama, bahkan kami sempat terkejut saat salah satu dari mereka ada yang menginginkan kami untuk pindah kamar karena keberadaan kami dikamar menjadi penghalang bagi mereka. Benarkah itu semua? Katakan apakah kami penghalang bagi kalian untuk menjalankan tugas kalian? Jika iya kenapa kalian tidak pernah mengatakan itu secara langsung dengan kami, kenapa kalian hanya diam dan membicarakan itu secara diam-diam. Apakah sopan seorang adik kelas mendiamkan kakak kelasnya? 
Kami kehilangan kendali saat mereka mulai mengeluarkan kata-katanya. "Maaf sebelumnya, untuk muallimah yang ada dikamar saya, tolong jaga kamarnya dengan baik, saya mengerti kalian semua sibuk dengan tugas baru kalian tapi saya merasa sakit hati ketika teman saya sendiri kalian salahkan karena menjemurkan baju didepan kamar, sedangkan teman kalian sendiri menaruh baju dipintu lemari, apakah yang saya katakan itu benar?" Tanya Putmal kepada anak Gencima.
"Saya gak terima teman saya diperlakukan seperti itu!" Teriak Bunga dengan nada kasar
"Apakah itu benar Sarifah, Azizah dan Nur Hikmah?" Ucap kami dengan nada penekanan, lama kemudian mereka mengatakan " Iya." 
Dari perkumpulan itu seharusnya anak GENCIMA merasa bahwa kami memang harus introfeksi diri terlebih dahulu, dan kurangnya konsultasi dengan kami mereka jadi salah dalam bertindak. Dan seharusnya mereka mengerti bahwa kami PERDULI dengan mereka. Tapi apa balasan mereka kepada kami? Mereka mengadukan kami kepada MPO nya sampai dia memandang perkumpulan itu adalah salah dan semua yang anak DEIZA lakukan sampai malam itu adalah sebuah kesalahan? Tidakkah ada dari kalian yang memandang bahwa kami melakukan itu adalah sebuah keperdulian kami terhadap kepengurusan kalian? TIDAK ADAKAH SATU PUN DARI KALIAN SEMUA YANG BERPIKIR SEPERTI ITU? KATAKAN! Kami telah berusaha melindungi Pesantren kami dan menjaganya dengan baik. Sudah takdirkan anak AVZANETRA selalu disalahkan? Kami tau kami anak yang keras kepala dan nakal. TAPI APAKAH ADA KENAKALAN KAMI YANG MERUSAK PESANTREN KAMI SENDIRI? APAKAH KALIAN MENGIRA BAHWA KAMI AKAN TEGA MELAKUKAN ITU? Selama 6 tahun kami merasa bahwa anak DEIZA FC adalah anak yang telah membawa Pesantren menuju kemajuan dan berkembang, anak DEIZA FC adalah anak yang unggul dalam semua bidang, kami yang selalu membawa nama baik Pesantren dalam perlombaan, tapi tidak adakah yang menghargai perjuangan kami? APAKAH KALIAN SEMUA MENGIRA BAHWA KAMI ADALAH PERUSAK? KATAKAN! jika iya maafkan kami, karena kami sendiri pun selama ini telah berjuang untuk memperbaiki diri kami dan memajukan Pesantren kami. 



 

Pergarus

Kami merasa senang karena kami sebentar lagi akan lulus dan diwisudakan, ya walaupun tidak mudah untuk menggapai itu semua, tapi kami yakin dengan kebersamaan kami dapat melewati semua rintangan dan ujian yang akan datang, pada tanggal 10 Januari 2020 kami telah menyerahkan tugas dan amanah yang dahulu kami emban, kini kami telah melepaskan jabatan kami kepada anak Gencima, ada rasa sedih pada diri kami sendiri. waktu seakan-akan berjalan dengan cepat. sampai kami merasa bahwa kami masih menjadi ingin menjadi santri lagi, kami ingin berjuang demi kemajuan Pesantren kami lagi, ya walaupun kami tau niat kami tidak pernah dihargai oleh semua orang, karena kenakalan kami membuat pimpinan marah dan tidak percaya dengan niat kami yang ingin memajukan Pesantren. Kami berjalan dengan sendiri tanpa ada bantuan dari Ustdzah dan kakak kelas kami. Kami bertahan atas dukungan para santri saat itu. Kami DEIZA FC akan mengenang semua perjalanan kami ini selama menjadi pengurus ISMAM 19 yang kurang berhasil dalam menjalankan tugas dan amanah kami. Ya walaupun kami telah berusaha untuk bangkit dan bertahan demi rintangan dan omongan yang selalu kami terima dalam menjalankan amanah pengurus