Saya ingin bercerita tentang anak DEIZA pada masa Nihaie. Yang mana kami semua melewati semua rintangan dan masalah yang terus berdatangan tiada hentinya. Pada saat Tahfidz kami semua mendapatkan pujian dari sebagian Ustdzah, katanya pada ujian tahfidz anak DEIZA banyak yang telah menyelesaikan tahfidznya, berbeda dengan rombongan yang tahun lalu. Kami akui itu semua memang benar, karena entah kenapa semua itu kami berlomba-lomba dan bersaing untuk dapat menyelesaikan tahfidz tersebut, itu semua tidak lebih karena penekanan dari Ust. Nail sebagai ketua Nihai, penekanan yang kami tidak suka namun dapat membuat kami bersemangat dan berusaha.
Usaha kami dalam menghafal banyak sekali rintangannya, dari masalah keadilan dalam memberikan nilai maupun kelelahan karena harus mengulang ketika nilai kami dibawah 3 yaitu 1-2. Namun karena usaha dan semangat kami, alhamdulillah kami, sebagian anak DEIZA dapat menyelesaikan tahfidznya. Dan sebagian yang lain harus membuat SP karena telah membuang-buang waktu yang telah diberikan, hal itu tidak kami sesali karena sebagian dari anak DEIZA sudah merasa cukup dengan hafalannya, yang tidak memungkinkan untuk menghafal surat yang sangat panjang dan ayat-ayat yang kami rasa sulit untuk dihafal.
Saat perkumpulan Ustad. Nail berkata kepada kami. "Ketika kalian telah menyelesaikan tahfidz, temui saya akan saya tes lagi hafalan kalian baru saya akan tanda tangani, untuk menghilangkan ketidakadilan terhadap kalian. Dan bagi yang belum selesai saya kasih waktu sampai tanggal 28 januari 2020, itu terakhir kalian ngumpulin bagi yang tidak selesai terpaksa harus membuat SP."
Seketika pesawat pun meroket, para wanita pun berkoar-koar, entahlah apa yang ingin mereka katakan, sehingga membuat Ustad. Nail merasa pusing sendiri harus mendengarkan yang mana terlebih dahulu. Begitu para cowok yang hanya diam, dan pusing melihat sebagian cewek-cewek bersuara.
Pada saat tanggal 28 telah lewat, Ustad. Nail pun masih memberi kesempatan kepada anak DEIZA untuk dapat menyelesaikan tahfidznya, namun semua itu membuat anak cewek Deiza protes.
"Udahlah Ustad, kalau mau ngumpulin sekarang ya udah sekarang, gak usah nambah-nambah waktu gitu, lagian juga kita udah capek, hafalan kita udah mentok."
"Berarti kalian harus bikin SP."
"Iya gak apa-apa, Ustad."
"Kaya apaan tau Ustad Nail." Ucap Ani Handay saat itu, karena geregatan dengan sikap beliau.
Terlihat wajah anak cewek yang sudah putus asa, berbeda dengan wajah cowok yang terlihat tenang namun membela anak cewek. karena kebanyakan dari anak cowok yang sudah selesai semua tahfidznya.
Akhirnya setelah mendengar bahwa anak DEIZA sudah tidak bersekolah, Ustad. Nail pun mengatakan bahwa kami harus masuk kekelas untuk menghafal. Walau sudah jelas keputusan itu akan ditolak oleh anak DEIZA. Namun keputusan adalah keputusan yang sudah tidak bisa kami ganggu gugat. Karena sumbernya pun dari Pimpinan langsung.
Saat itu kami meminta izin untuk memakai baju biasa yang langsung dibolehkan oleh Ustad. Nail yang terpenting kami semua tidak boleh telat. Kami masuk jam 08:05 pagi sampai jam 11:15 siang. Dan setiap harinya diabsen dan diperiksa membuat kami terpaksa harus menghafal. Namun anak cewek selalu protes karena Ustad. Nail yang tidak pernah marah terhadap anak cowok yang tidur-tiduran bahkan telat. Kami mencari tahu alasan itu sendiri, karena hanya beberapa dari cowok yang belum menyelesaikan dan kebanyakan anak cowok yang sudah menyelesaikan tahfidz.
Sangat terkesan saat 1 minggu itu berlalu, karena sikap anak cewek yang menghafal hanya ketika mau dan ada Ustad. Nail saja. Yang lainnya kami gunakan untuk bercanda gurau dan bercerita atau menggosip.
Pada saat tanggal 28 telah lewat, Ustad. Nail pun masih memberi kesempatan kepada anak DEIZA untuk dapat menyelesaikan tahfidznya, namun semua itu membuat anak cewek Deiza protes.
"Udahlah Ustad, kalau mau ngumpulin sekarang ya udah sekarang, gak usah nambah-nambah waktu gitu, lagian juga kita udah capek, hafalan kita udah mentok."
"Berarti kalian harus bikin SP."
"Iya gak apa-apa, Ustad."
"Kaya apaan tau Ustad Nail." Ucap Ani Handay saat itu, karena geregatan dengan sikap beliau.
Terlihat wajah anak cewek yang sudah putus asa, berbeda dengan wajah cowok yang terlihat tenang namun membela anak cewek. karena kebanyakan dari anak cowok yang sudah selesai semua tahfidznya.
Akhirnya setelah mendengar bahwa anak DEIZA sudah tidak bersekolah, Ustad. Nail pun mengatakan bahwa kami harus masuk kekelas untuk menghafal. Walau sudah jelas keputusan itu akan ditolak oleh anak DEIZA. Namun keputusan adalah keputusan yang sudah tidak bisa kami ganggu gugat. Karena sumbernya pun dari Pimpinan langsung.
Saat itu kami meminta izin untuk memakai baju biasa yang langsung dibolehkan oleh Ustad. Nail yang terpenting kami semua tidak boleh telat. Kami masuk jam 08:05 pagi sampai jam 11:15 siang. Dan setiap harinya diabsen dan diperiksa membuat kami terpaksa harus menghafal. Namun anak cewek selalu protes karena Ustad. Nail yang tidak pernah marah terhadap anak cowok yang tidur-tiduran bahkan telat. Kami mencari tahu alasan itu sendiri, karena hanya beberapa dari cowok yang belum menyelesaikan dan kebanyakan anak cowok yang sudah menyelesaikan tahfidz.
Sangat terkesan saat 1 minggu itu berlalu, karena sikap anak cewek yang menghafal hanya ketika mau dan ada Ustad. Nail saja. Yang lainnya kami gunakan untuk bercanda gurau dan bercerita atau menggosip.