Pada tanggal 08 juni 2020, kami dikabarkan untuk kembali ke Pesantren, untuk mengikuti ujian kelulusan kami, saat itu kami sudah enggan untuk kembali, karena memang sudah waktunya kami melanjutkan perjalanan kita masing-masing, walau kami belum diwisudakan, tapi tetap saja kami adalah angkatan 2020, yang mana kini menjadi sejarah kami bahwa kami adalah angkatan terhebat. Jangan katakan bahwa kami lulus lewat jalur Corona!!! yakinlah semua akan ada hikmahnya ^.^
Kami terkejut bukan main jika kami akan melakukan praktek ngajar pada tanggal 15 juni 2020, yang mana kami belum siap, namun itu harus untuk kami lakukan.
Awalnya kami menolak, karena kami hanya ingin diwisudakan, jujur saja kami sudah lelah, kami ingin beristirahat, namun kini kami telah ditugaskan lagi untuk melewati 2 tahap jika memang kami ingin diwisudakan, sungguh kami merasa sudah malas untuk bergerak.
Namun, salah satu dari kami menguatkan kami bahwa kami bisa melewati 2 tahap ini, yang pada akhirnya kami pun berlatih sendiri tanpa bimbingan, bahkan ketua NIHAIE, kami pun saat itu belum kembali karena masih berda dikampung halamannya, beliau tidak bisa menemani kami praktek Tadris, namun, Abi meluangkan waktunya untuk menemani kami selama 1 minggu, kami merasa deg-degan saat ditemani langsung dengan Abi, tapi seiring berjalannya waktu kami mulai terbiasa, bahkan kami sangat beruntung sekali diperlakukan dengan baik oleh Abi, kami sayang Abi sebagai mana ABi menyayangi kami dan menjaga kami. Tidak malah dong, jika kami katakan kami adalah teristimewa.
Saat kami mulai praktek Tadris, Abi terkejut karena nilai kami bagus-bagus, begitu pun dengan kami sendiri, bangga punya teman yang hebat, walau kami berlatih sendiri tanpa bimbingan kami mampu dan kami hebat bukan?
Saat salah satu teman kami yang hampir tidak lulus saat praktek, kami meminta tolong kepada Abi agar diluluskan, karena kami tidak bisa membiarkan salah satu teman kami tidak lulus. Akhirnya Abi pun memberi kesempatan untuknya kembali mengulang, walau hasilnya tidak sempurna namun, kami senang akhirnya kami bisa lulus semua.
Dan pada tanggal 22 ketua NIHAIE kami yaitu Ust. Nailur Rahman kembali untuk menemani kami wisuda nanti, berbarengan dengan anak cowok memulai praktek Tadrisnya, wkwkwkwk...
Kami menyambut kedatangan ketua NIHAIE kami dengan baik, namun dengan lucunya ketua NIHAIE kami lari saat kami meneriaki namanya. wkwkwkwk, bakal jadi kenangan tersendiri bukan?
Dan tahap selanjutnya adalah Khubatul Wada' (pidato perpisahan) yang mana kami tidak diizinkan untuk baca sebelum kami melunasi bayaran jas wisuda kami, hemm ini peraturan dari Ketua NIHAIE kami langsung yang jujur saja membuat kami keberatan, tidak bisakah diselesaikan urusan kami dulu, namun seperti biasa kami harus mengalah, karena ini semua pun demi kebaikan bersama.
"Selagi kami melewatinya dengan bersama-sama, beban kami akan terasa ringan."
"Kami yakin bahwa kami kuat, kami bisa, dan kami hebat."
"Saling menguatkan satu sama lain, berjuang bersama demi 1 tujuan."